FREEPORT
- Paradoks Negeri Berdikari -
- Paradoks Negeri Berdikari -
Sebuah
negeri tanpa intervensi imperialis, negeri yang mampu berdaulat penuh dengan
segala sumber daya yang dimiliki , serta tidak dapat didikte oleh bangsa manapun,
inilah konsep berdikari yang sebenarnya dan seharusnya diterapkan.
Berdikari
merupakan mahkota kemerdekaan sebagai akibat dari kejenuhan kolonialisme yang
telah terjadi selama tiga setengah abad dan selama itu pula bangsa ini
dikendalikan oleh ‘asing’,
hal ini memunculkan basis perjuangan di seluruh negeri, mereka memiliki satu visi yang sama, yaitu negeri tanpa belenggu dan campur tangan bangsa lain.
hal ini memunculkan basis perjuangan di seluruh negeri, mereka memiliki satu visi yang sama, yaitu negeri tanpa belenggu dan campur tangan bangsa lain.
Hingga akhirnya
Presiden Soekarno mencetuskan untuk pertama kali konsep berdikari yang mungkin mengarahkan bangsa ini kepada kedaulatan
penuh terhadap seluruh aspek dan kekayaan yang dimilikinya, “go to hell with your aid” begitulah
kalimat menantang sang founding father.
namun visi ini terhenti akibat munafiknya negeri ini terhadap produk idealisme bangsa lain, bahkan membunuh satu sama lain demi tegaknya ideologi ‘asing’ .
namun visi ini terhenti akibat munafiknya negeri ini terhadap produk idealisme bangsa lain, bahkan membunuh satu sama lain demi tegaknya ideologi ‘asing’ .
Sampai
pada titik tertentu, ketika negeri ini kembali jenuh dalam kegilaan dan
pertentangan ideologi, munculah kekuasaan baru yang secara kebetulan mendapatkan kepercayaan untuk mengembalikan visi negeri
berdikari,
akan tetapi inilah awal paradoks, awal dari neo-kolonialisme, awal pudarnya visi Negeri berdikari, investasi dan modal ‘asing’ secara bebas masuk ke negeri ini,
penguasa dan pengusaha semakin
mengukuhkan peranan mereka sebagai agen dalam mempermudah masuknya pengaruh
dari luar,
tanah yang subur serta sumber daya yang melimpah di negeri ini justru dikelola oleh perusahaan asing dan bahkan hasilnya pun tidak sepenuhnya dimiliki oleh Negara,

sebagian besar hanya untuk kepentingan kapitalis, dibanding dengan kebermanfaatannya pada masyarakat,.
tanah yang subur serta sumber daya yang melimpah di negeri ini justru dikelola oleh perusahaan asing dan bahkan hasilnya pun tidak sepenuhnya dimiliki oleh Negara,

sebagian besar hanya untuk kepentingan kapitalis, dibanding dengan kebermanfaatannya pada masyarakat,.
Momentum
terbesar dari paradoks ini ketika
penguasa yang baru menandatangani kontrak karya perusahaan swasta asing dengan
nilai investasi jangka panjang hingga milyaran US dollar, PT Freeport adalah salah
satu perusahaan asing dengan profit yang
sangat besar,
Hingga saat ini cadangan terbukti Freeport sebesar 828 juta ton bijih. Terdiri dari 1,1 persen tembaga, 1,01 part-per million (ppm) emas, serta 4,22 ppm perak. Pada 2012 lalu, kadar kandungan tembaga mencapai 0,62% sedangkan emas mencapai 0,59 gram per ton.
Meskipun produksi emas Freeport pada 2012 mengalami penurunan, perusahaan mampu memperoleh pendapatan sebesar US$ 3,92 miliar. hal itu disebabkan harga rata-rata emas tahun lalu mengalami peningkatan 5,1%, yakni dari US$ 1.583 per ons menjadi US$ 1.664 per ons.

jika diperhitungkan maka mungkin bangsa ini tidak akan menganal yang namanya kemiskinan ,karena bumi nusantara telah menyediakan segalanya,
semenjak tahun 1973 PT Freeport telah menandatangani kontrak selama 30 tahun yang kemudian diperpanjang lagi sampai tahun 2021, dan kemungkinan perpanjangan 2x10 tahun sampai 2041, serta hampir semua sepenuhnya dikelola oleh asing, inilah sebuah paradoks yang membuat kita akan bertanya apakah ini yang diharapkan konstitusi dan pendiri bangsa ini?,
Hingga saat ini cadangan terbukti Freeport sebesar 828 juta ton bijih. Terdiri dari 1,1 persen tembaga, 1,01 part-per million (ppm) emas, serta 4,22 ppm perak. Pada 2012 lalu, kadar kandungan tembaga mencapai 0,62% sedangkan emas mencapai 0,59 gram per ton.
Meskipun produksi emas Freeport pada 2012 mengalami penurunan, perusahaan mampu memperoleh pendapatan sebesar US$ 3,92 miliar. hal itu disebabkan harga rata-rata emas tahun lalu mengalami peningkatan 5,1%, yakni dari US$ 1.583 per ons menjadi US$ 1.664 per ons.
jika diperhitungkan maka mungkin bangsa ini tidak akan menganal yang namanya kemiskinan ,karena bumi nusantara telah menyediakan segalanya,
semenjak tahun 1973 PT Freeport telah menandatangani kontrak selama 30 tahun yang kemudian diperpanjang lagi sampai tahun 2021, dan kemungkinan perpanjangan 2x10 tahun sampai 2041, serta hampir semua sepenuhnya dikelola oleh asing, inilah sebuah paradoks yang membuat kita akan bertanya apakah ini yang diharapkan konstitusi dan pendiri bangsa ini?,
namun jika
alasanya mengenai SDM yang belum mampu untuk mengelola sendiri, lantas apakah
kemerdekan negeri ini terlalu ‘prematur’, haruskah negeri ini mengecap rasa
kolonialisme sekali lagi, untuk merasakan pahitnya ketidakberdayaan?
71 tahun merdeka dan tujuh kali berganti kepemimpinan, kemandirian bangsa ini masih tetap jadi sebuah paradoks dari tanah surga di tengah bumi katulistiwa,
71 tahun merdeka dan tujuh kali berganti kepemimpinan, kemandirian bangsa ini masih tetap jadi sebuah paradoks dari tanah surga di tengah bumi katulistiwa,
persoalan mengenai bagi hasil produksi terus terjadi, di
era pemimpin saat ini berbagai upaya dilakukan untuk menguatkan posisi bangsa
ini dalam mencapai kesepakatan bagi hasil.
Tetapi bagaimana pun ini bukanlah tanah anarki yang begitu saja memaksakan kehendaknya tanpa dukungan dari konstitusi,
Tetapi bagaimana pun ini bukanlah tanah anarki yang begitu saja memaksakan kehendaknya tanpa dukungan dari konstitusi,
dari pasal 33 ayat 3 UUD Negara Republik Indonesia
1945 yang menyatakan bahwa , Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat , kemudian ayat 2 mengatakan, cabang-cabang produksi yang
penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh
Negara.
Yang
perlu di garis bawahi dari pasal itu adalah ‘dikuasi negara’, seharusnya dengan
dukungan dari konstitusi para penguasa memiliki sikap yang proaktif dalam
mengimplementasikannya,
bukankah objek dari produk hukum itu adalah sebesar besarnya untuk kemakmuran negeri ini ,namun inilah paradoks, segalanya bersifat bertentangan, negeri ini dianugrahi kekayaan alam yang luar biasa,
bukankah objek dari produk hukum itu adalah sebesar besarnya untuk kemakmuran negeri ini ,namun inilah paradoks, segalanya bersifat bertentangan, negeri ini dianugrahi kekayaan alam yang luar biasa,
jauh di bawah tambang terbuka Freeport
misalnya, emas, perak, tembaga dan bijih mineral yang jumlahnya milyaran ton
siap dieksploitasi, di Sumatra dan Kalimantan ribuan hektar hutan di babat abis
untuk kepentingan perusahaan asing demi menanam kelapa sawit, negeri
ini memiliki garis pantai terpanjang dan merupakan Negara kepulauan terbesar di
dunia namun reklamasi daerah pesisir Bali dan Jakarta tetap dilakukan karena
lebih menguntungan investor serta penanam modal asing, tanpa memandang
konservasi hutan bakau, Masih banyak lagi paradoks yang terjadi di negeri ini
Akan tetapi mungkin karena negeri ini terlalu
lama dikuasai asing pemikiran kita sudah terdoktrin menganggap itu sebuah hal yang
wajar dan menerima itu sebagai suatu kebiasaan. Salah satu cara keluar dari
paradoks ini adalah kita harus berpikir secara logis dan menerima kenyataan
bahwa negeri ini masih DIJAJAH!!
Para
petinggi di negeri ini, seharusnya mempunyai satu visi
Untuk
keluar dari intervensi ,demi ibu pertiwi dan
demi
Dwi Warna Sang Panji, Yang Berdikari!!!
-
Adi Dananjaya,Mahasiswa
Masa Percobaan
sumber:
1. http://m.bisnis.com/industri/read/20130221/44/1430/tambang-emas-freeport-optimistis-capai-produksi-13-juta-ounce-tahun-ini
2. http://www.williamperkasa.com/2014/04/Indonesia-dikenal-sebagai-negeri-yang-kaya-emas.html?m=1
1. http://m.bisnis.com/industri/read/20130221/44/1430/tambang-emas-freeport-optimistis-capai-produksi-13-juta-ounce-tahun-ini
2. http://www.williamperkasa.com/2014/04/Indonesia-dikenal-sebagai-negeri-yang-kaya-emas.html?m=1


Tidak ada komentar:
Posting Komentar